Minggu, 24 April 2016

Sepatu Terakhir

Penulis Novel: Toni Tegar Sahidi

Novel Sepatu Terakhir sangat menarik dan recommended untuk dibaca. Novel ini menceritakan perjuangan, kesetiaan, pengabdian, kerja keras, dan pastinya tentang SEPATU, sesuai dengan judul novelnya.


Novel ini menceritakan kehidupan seseorang bernama Pak Marwan. Ia adalahseorang perajin sepatu ternama di Blitar. Kualitas sepatunya pun tak lagi diragukan. Dulunya, Pak Marwan hanyalah anak tukang sol sepatu. Ketika beranjak dewasa, ia bekerja di pabrik sepatu, menjadi perajin sendiri, sampai akhirnya ia merintis sebuah desa yang sepi menjadi kampung sepatu. Sepanjang hidupnyaia habiskan dengan membuat sepatu.
Namun suatu ketika, Pak Marwan tiba-tiba memutuskan untuk pensiun dari membuat sepatu. Keinginan itu awalnya ditentang oleh anak Pak Marwan, Alin.Ketiga karyawan beliau, Mbah Joy, Pak Kus, dan Mas Slamet juga menentang keinginannya. Apalagi desain sepatu Pak Marwan menjadi trend setter di kalangan pabrik sepatu lainnya di Kota Blitar. Terjadilah pergolakan batin antara tokoh utama, Alin, dengan ayahnya, Pak Marwan. Pak Marwan sendiri beralasan bahwa beliau sudah tua dan ingin menikmati hidup, karena itu iamengambil keputusan untuk berhenti membuat sepatu. Di balik pergolakan batin antara anak dan ayah, karyawan dan pimpinan, muncul sebuah ide untuk membuat keputusan pensiun Pak Marwan menjadi unik. Akhirnya Alin, Pak Marwan, Mbah Joy, Pak Kus, dan Mas Slamet membuat sebuah perjanjian, yang dinamai dengan Perjanjian Isorjati. Dalam perjanjian tersebut dikatakan,bahwa Pak Marwan boleh pensiun dengan syarat harus membuat sepatu terakhir sebagai masterpiece-nya. Uniknya lagi sepatu terakhir yang akan dibuat Pak Marwan ini dibuat untuk diberikan secara gratis dengan syarat pemilik sepatu harus bercerita tentang perjalanan mereka mengenakan sepatu tersebut. Pemilik sepatu juga dipilih oleh Pak Marwan sendiri melalui proses seleksi. Selain itu sepatu tersebut tidak boleh dijual dan hanya boleh diberikan secara gratis. Sepatu terakhir itu diberi nama AA Tom Whittaker. AA adalah trade mark pabrik sepatu milik Pak Marwan, sedangkan Tom Whittaker adalah tokoh yang menginspirasi Pak Marwan.
Cerita pemilik pertama AA Tom Whittaker dimulai dari seorang penjual balon. Seorang penjual balon yang sehari-hari tidak membutuhkan sepatu untuk berjualan malah mendapatkan AA Tom Whittaker. Sepatu tersebut bahkan ditawar oleh pejabat sampai jutaan rupiah, namun Pak Marwan malah memilih memberikan AA Tom Whittaker kepada penjual balon. Di sinilah cerita penuh inspirasi muncul melalui sepatu tersebut. Ketika sepatu itu dipakai, ada sebuah perubahan hidup yang terjadi pada sang penjual balon. Walaupun bukan sepatu itu yang mengubah hidup si penjual balon, namun begitulah Allah SWT merencanakan kehidupan hamba-Nya. Kehidupan sang penjual balon berubah sejak mengenakan AA Tom Whittaker. Bukan hanya secara ekonomi namun juga secara pola pikir.
Perjalanan AA Tom Whittaker tak berhenti pada penjual balon. Karena setelah itu, sepatu tersebut berpindah tangan ke seorang guru. Bukan hanya seorang guru biasa saja, namun guru yang luar biasa. Gurutersebut merupakan korban keganasan korupsi di dunia pendidikan dan harus diasingkan ke wilayah yang tidak menghargai pendidikan. Cerita sang guru juga unik sebagaimana dia mendapatkan sepatu itu. Namun sekali lagi, bukan karena sepatu itu yang mengubah pendirian sang guru. AA Tom Whittaker hanya pembuka jalan untuk mencapai puncak kejayaan sebagai guru hingga diundang oleh pihak Istana Negara. Uniknya lagi ketika sang guru hendak memindahtangankan, sepatu tersebut justru hilang saat sholat di masjid kantor bupati.
                Sekalipun hilang digondol maling, ternyata AA Tom Whittaker sekali lagi ditemukan oleh orang yang hidupnya berubah akibat sepatu itu. Bukan karenadipakai saja, tetapi karena ingin digunakan sebagai alat lemparan. Sepatu tersebut dibeli oleh mantan preman yang menjual pecel lele di sebuah pasar. Saat itu sekumpulan kucing yang sering mengganggu ingin mengambil makanan dari pelanggan. Sang penjual yang sudah terbiasa melempar kucing tersebut kalap mata ingin melemparnya dengan AA Tom Whittaker. Untunglah ada seorang pelanggan yang menghalangi. Secara tidak langsung AA Tom Whittaker menjadi media pembuka jalan pertemuan antara sang penjual dengan pelanggan setianya. Sekali lagi sepatu tersebut hilang ketika ingin diserahkan ke orang lain. Hilanglah cerita AA Tom Whittaker bersama orang yang mengambilnya.
                AA Tom Whittaker sebenarnya bukanlah masterpiece dari kisah pensiun Pak Marwan. Sepatu itu hanya pembuka jalan saja untuk perubahan yang lebih besar. Dari situ juga, saya mendapatkan pelajaran bahwa Pak Marwan mencoba untuk keluar dari kondisi Institutionalized. Kondisi tersebut seperti penjara bagi Pak Marwan sehingga tak mampu memisahkan antara cintanya akan sepatu dengan cinta dengan Allah. Semenjak pensiun dari dunia sepatu memang banyak sekali perubahan yang terjadi dalam hidup Alin, Mbah Joy, Pak Kus, Mas Slamet, dan tentunya bagi Pak Marwan sendiri. Sekalipun banyak gejolak batin yang terjadi dalam novel ini, satu hal yang saya tangkap secara jelas. Tak selayaknya manusia menggantungkan kegembiraan dan kesedihan pada sesuatu yang fana. Selama ini Pak Marwan hanya bisa tersenyum lepas jika berurusan dengan sepatudan menghapus kesedihan akan kematian anak sulungnya serta perceraian, juga dengan membuat sepatu. Pada suatu saat juga manusia akan bergerak untuk kembali pada kebenaran mutlak yang tidak ada satupun kefanaan dalamnya. Yaitu Allah SWT.

-SEKIAN-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar