Penulis Novel: Toni Tegar Sahidi
Novel Sepatu Terakhir sangat menarik dan
recommended untuk dibaca. Novel ini menceritakan perjuangan, kesetiaan,
pengabdian, kerja keras, dan pastinya tentang SEPATU, sesuai dengan judul
novelnya.
Novel ini menceritakan kehidupan seseorang bernama
Pak Marwan. Ia adalahseorang perajin sepatu ternama di Blitar. Kualitas
sepatunya pun tak lagi diragukan. Dulunya, Pak Marwan hanyalah anak tukang sol
sepatu. Ketika beranjak dewasa, ia bekerja di pabrik sepatu, menjadi perajin
sendiri, sampai akhirnya ia merintis sebuah desa yang sepi menjadi kampung
sepatu. Sepanjang hidupnyaia habiskan dengan membuat sepatu.
Namun suatu ketika, Pak Marwan tiba-tiba memutuskan
untuk pensiun dari membuat sepatu. Keinginan itu awalnya ditentang oleh anak
Pak Marwan, Alin.Ketiga karyawan beliau, Mbah Joy, Pak Kus, dan Mas Slamet juga
menentang keinginannya. Apalagi desain sepatu Pak Marwan menjadi trend setter
di kalangan pabrik sepatu lainnya di Kota Blitar. Terjadilah pergolakan batin antara tokoh utama, Alin, dengan ayahnya, Pak Marwan. Pak Marwan sendiri
beralasan bahwa beliau sudah tua dan ingin menikmati hidup, karena itu iamengambil keputusan
untuk berhenti membuat sepatu. Di balik pergolakan batin antara anak dan ayah,
karyawan dan pimpinan, muncul sebuah ide untuk membuat keputusan pensiun Pak
Marwan menjadi unik. Akhirnya Alin, Pak Marwan, Mbah Joy, Pak Kus, dan Mas Slamet
membuat sebuah perjanjian, yang dinamai
dengan Perjanjian Isorjati. Dalam perjanjian tersebut dikatakan,bahwa Pak Marwan boleh pensiun dengan syarat harus membuat sepatu
terakhir sebagai masterpiece-nya. Uniknya lagi sepatu terakhir yang akan dibuat Pak Marwan ini dibuat untuk diberikan secara gratis dengan syarat pemilik
sepatu harus bercerita tentang perjalanan mereka mengenakan sepatu tersebut.
Pemilik sepatu juga dipilih oleh Pak Marwan sendiri melalui proses seleksi.
Selain itu sepatu tersebut tidak boleh dijual dan hanya boleh diberikan secara
gratis. Sepatu terakhir itu diberi nama AA Tom Whittaker. AA adalah trade mark pabrik sepatu milik Pak Marwan,
sedangkan Tom Whittaker adalah tokoh yang menginspirasi Pak Marwan.
Cerita pemilik pertama AA
Tom Whittaker dimulai dari seorang penjual balon. Seorang penjual balon yang
sehari-hari tidak membutuhkan sepatu untuk berjualan malah mendapatkan AA Tom
Whittaker. Sepatu tersebut bahkan ditawar oleh pejabat sampai jutaan rupiah, namun Pak Marwan malah
memilih memberikan AA Tom Whittaker kepada penjual balon. Di sinilah cerita
penuh inspirasi muncul melalui sepatu tersebut. Ketika sepatu itu dipakai, ada sebuah perubahan
hidup yang terjadi pada sang penjual balon. Walaupun bukan sepatu itu yang mengubah hidup si penjual balon,
namun begitulah Allah SWT merencanakan kehidupan hamba-Nya. Kehidupan sang
penjual balon berubah sejak mengenakan AA Tom Whittaker. Bukan hanya secara
ekonomi namun juga secara pola pikir.
Perjalanan AA Tom Whittaker tak berhenti pada penjual balon. Karena
setelah itu, sepatu tersebut berpindah tangan ke seorang guru. Bukan hanya
seorang guru biasa saja, namun guru
yang luar biasa. Gurutersebut merupakan korban keganasan korupsi di
dunia pendidikan dan harus diasingkan ke wilayah yang tidak menghargai
pendidikan. Cerita sang guru juga unik sebagaimana dia mendapatkan sepatu itu.
Namun sekali lagi, bukan karena sepatu itu yang mengubah pendirian sang guru.
AA Tom Whittaker hanya pembuka jalan untuk mencapai puncak kejayaan sebagai
guru hingga diundang oleh pihak Istana Negara. Uniknya lagi ketika sang guru
hendak memindahtangankan, sepatu tersebut justru hilang saat sholat di masjid
kantor bupati.
Sekalipun hilang digondol
maling, ternyata AA Tom Whittaker sekali lagi ditemukan oleh orang yang
hidupnya berubah akibat sepatu itu. Bukan karenadipakai saja, tetapi karena
ingin digunakan sebagai alat lemparan. Sepatu tersebut dibeli oleh mantan
preman yang menjual pecel lele di sebuah pasar. Saat itu sekumpulan kucing yang sering
mengganggu ingin mengambil makanan dari pelanggan. Sang penjual yang sudah
terbiasa melempar kucing tersebut kalap mata ingin melemparnya dengan AA Tom
Whittaker. Untunglah ada seorang pelanggan yang menghalangi. Secara tidak
langsung AA Tom Whittaker menjadi media pembuka jalan pertemuan antara sang
penjual dengan pelanggan setianya. Sekali lagi sepatu tersebut hilang ketika
ingin diserahkan ke orang lain. Hilanglah cerita AA Tom Whittaker bersama orang
yang mengambilnya.
AA Tom Whittaker sebenarnya
bukanlah masterpiece dari kisah pensiun Pak Marwan. Sepatu itu hanya pembuka
jalan saja untuk perubahan yang lebih besar. Dari situ juga, saya mendapatkan pelajaran bahwa
Pak Marwan mencoba untuk keluar dari kondisi Institutionalized. Kondisi
tersebut seperti penjara bagi Pak Marwan sehingga tak mampu memisahkan antara
cintanya akan sepatu dengan cinta dengan Allah. Semenjak pensiun dari dunia
sepatu memang banyak sekali perubahan yang terjadi dalam hidup Alin, Mbah Joy,
Pak Kus, Mas Slamet, dan tentunya bagi Pak Marwan sendiri. Sekalipun banyak
gejolak batin yang terjadi dalam novel ini, satu hal yang saya tangkap secara
jelas. Tak selayaknya manusia menggantungkan
kegembiraan dan kesedihan pada sesuatu yang fana. Selama ini Pak Marwan hanya
bisa tersenyum lepas jika berurusan dengan sepatudan menghapus kesedihan akan
kematian anak sulungnya serta perceraian, juga dengan
membuat sepatu. Pada suatu saat juga manusia akan bergerak untuk kembali pada
kebenaran mutlak yang tidak ada satupun kefanaan dalamnya. Yaitu Allah SWT.
-SEKIAN-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar